Pahatan Kreatif Warga Trembono di Atas Batu

Pahatan Kreatif Warga Trembono di Atas Batu

Oleh : Amalia Miftachul Chasanah

Cobek, siapa yang tidak mengenal peralatan dapur yang satu ini? Dusun Trembono, Desa Tegalrejo adalah salah satu sentra penghasil cobek di Kabupaten Gunungkidul. Di Dusun ini terdapat kurang lebih 20 pengrajin cobek yang menjalankan usahanya secara mandiri. Sepanjangi jalan utama Dusun, gubuk-gubuk sederhana berdiri di halaman depan atau di samping rumah penduduk. Dari situlah cobek-cobek produksi Dusun Trembono ini dihasilkan.

Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan cobek ini adalah batu hitam atau sering disebut masyarakat sebagai watu ireng. Batu ini diperoleh dari para penambang batu di wilayah Cermo, Tegalrejo. Biasanya para pengrajin cobek, membeli batu dalam jumlah yang besar dari para penambang. Batu yang sudah dipesan akan dihantarkan oleh penambang sampai di rumah para pengrajin.
Proses pembuatan cobek memang tidak terlalu rumit, akan tetapi membutuhkan kesabaran, keterampilan, dan daya kreativitas yang tinggi. Bongkahan batu dibentuk menyerupai bentuk yang diinginkan menggunakan linggis. Agar bentuknya semakin tegas dan halus, kemudian batu yang sudah setengah jadi, dihaluskan dengan menggunakan mesin grenda. Mesin ini membantu pengrajin untuk membentuk cobek agar terlihat lebih sempurna.

Contoh cobek dan lumpang yang masih setengah jadi

Tidak hanya cobek saja yang menjadi hasil produksi dari para pengrajin, produk lain yang dihasilkan diantaranya, munthu, alu, dan lumpang. Variasi produk diberikan dari ukuran hingga model. Ukuran produk tersebut terdiri dari kecil, sedang, hingga ukuran besar. Dari segi model, inovasi yang dilakukan juga cukup beragam, terutama untuk produk cobek, pengrajin memproduksi cobek dengan bentuk bentuk yang unik, seperti lonjong, kotak, bahkan hingga bentuk karakter animasi.
Setiap harinya, rata-rata pengrajin mampu menghasilakan 5 cobek dengan berbagai variasi ukuran dan bentuk. Produk yang sudah jadi, biasaya akan diambil oleh distributor untuk kemudian dipasarkan. Harga produk cobek berkisar anatara Rp 30 ribu sampai Rp 100 ribu rupiah, tergantung ukuran dan bentuk produk. Dari tangan-tangan distributor inilah, cobek-cobek hasil karya pengrajin di Dusun Trembono Desa Tegalrejo dipasarkan untuk wilayah Klaten, Solo, dan Yogyakarta. Produknya dipasarkan di pasar tradisional bahkan sampai pada swalayan dan toko-toko besar pada tiga wilayah besar tersebut.
Warga pengrajin cobek di Dusun Trembono, Desa Tegalrejo, rata-rata memperoleh kemampuan dalam membuat cobek secara turun menurun. Wagino misalnya, dirinya mendapatkan keterampilan membuat cobek dari ayahnya. Sedari usia 20 tahun, Wagino telah menekuni usaha pembuatan cobek. Saat ini salah satu anaknya telah membuka usahanya sendiri sebagai pengrajin cobek, tidak jauh dari rumah Wagino. Melihat potensi yang ada, pemerintah melalui dinas terkait, ikut turun tangan untuk memberikan pelatihan keterampilan kepada para pengrajin, guna meningkatkan kapasitas dan inovasi dalam produksi mereka.
Cobek, menjadi salah satu nafas ekonomi bagi warga di Dusun Trembono, Desa Tegalrejo, Kabupaten Gunungkidul. Nilai-nilai kearifan dalam pembuatannya mengajarkan kita tentang kesederhanaan, kesabaran, dan kerja keras, untuk menghasilkan produksi yang maksimal dan berkualitas.

Close Menu